Wacana Baru Dunia Pendidikan (Sekolah Bertaraf Internasional)

Saravahsoul –┬áSekolah bertaraf internasional telah menjadi topik yang terkenal di dunia pendidikan Indonesia. Dari segi amanat UU No. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 terkait dengan pasal 50 ayat 3 sistem pendidikan nasional menetapkan bahwa pemerintah dan / atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan agar menjadi standar internasional bagi pengembangan satuan pendidikan. . Ini juga didukung oleh Ordonansi no. 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan yang dijabarkan dalam pedoman penjaminan mutu sekolah / matras bertaraf internasional pada sekolah dasar dan menengah. Pemerintah bekerjasama dengan pemerintah daerah berupaya mewujudkan sekolah bertaraf internasional di setiap provinsi dan kabupaten / kota.

Dalam mengembangkan sekolah tersebut, pemerintah pusat bersama pemerintah provinsi dan kabupaten / kota memberikan bantuan teknis dan pendidikan kepada sekolah menengah yang berpotensi, inovatif dan terpilih sebagai Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Pemerintah berharap pendidikan Indonesia dengan sekolah kelas dunia akan menghasilkan lulusan berkualitas yang diakui sederajat dengan lulusan SMA di negara maju dan mampu bersaing di dunia internasional.

Secara teori, keberadaan sekolah bertaraf internasional merupakan upaya untuk menggerakkan dunia pendidikan ke arah yang lebih baik. Namun, masih banyak hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaannya. Dalam pantauan penulis yang pernah bersekolah dan mengajar selama satu tahun sekolah dalam Proyek Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional yang sekarang disebut bertaraf internasional di kota Padang, ada tiga hal yang perlu dievaluasi dalam pelaksanaannya.

Pertama, sekolah bertaraf internasional adalah sekolah biasa yang telah berkembang menjadi sekolah bertaraf internasional. Staf sekolah (pejabat, administrasi dan guru) secara otomatis masih pemain lama dengan pengalaman yang sangat sedikit dalam masalah internasional. Dilihat dari kemampuannya memahami bahasa Inggris sebagai simbol sekolah bertaraf internasional, kemampuan para guru tersebut tergolong sangat rendah. The Jakarta Post yang terbit pada 9 Juni 2009 menyebutkan bahwa 60% guru di sekolah internasional berstandar internasional di Indonesia memiliki nilai TOEFL (tes kecakapan bahasa Inggris) yang sangat rendah. Meskipun para guru ini menerima ceramah atau pelatihan singkat dalam bahasa Inggris, mereka masih memiliki sedikit pengetahuan tentang bahasa Inggris karena kebanyakan dari mereka tidak lagi berusia muda untuk belajar.

Diperlukan perhatian yang sangat serius dari berbagai kalangan terkait penyelenggaraan sekolah bertaraf internasional ini. Bahkan di sekolah, guru dan siswa tidak termotivasi untuk menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua di sekolah. Dalam hal ini, kami belum membicarakan tentang kualitas mengajar para guru tersebut di bidang ilmunya masing-masing. Hal ini diperparah dengan tidak tersedianya guru yang terpilih menjadi guru di sekolah berstandar internasional tersebut, dengan kata lain mereka tidak memiliki pengalaman tentang apa yang diistilahkan dengan internasional.

Secara internasional, selain penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, juga dikaitkan dengan pelayanan prima. Dalam hal ini, berarti semua layanan yang terkait dengan penyelenggaraan sekolah bertaraf internasional harus dicek. Apakah semua struktur di sekolah dilatih dalam penerapan sistem layanan berorientasi internasional ini? Jawabannya tentu masih jauh dari yang diharapkan. Budaya internasional yang mengedepankan etos kerja yang tinggi, pelayanan dan keramahan yang prima serta merupakan kombinasi budaya lokal dan global perlu mendapat perhatian serius.

Dilansir dari situs https://riverspace.org/ oleh karena itu, pemerintah pusat dan daerah diharapkan dapat memilih kembali titik balik ini dengan mempersiapkan guru yang memiliki pengalaman menyeluruh di bidang keilmuannya dan mampu berbahasa Inggris serta berwawasan internasional.

Kedua, terkait sumber daya siswa yang diterima di sekolah. Sekolah bertaraf internasional merekrut siswa baru dengan proses seleksi yang sangat ketat. Proses tersebut dilihat dari kemampuan akademik dan non akademik yang terkait dengan kondisi ekonomi dan sosial mahasiswa. Menurut pengalaman penulis berada di sekolah percontohan berstandar internasional ini, siswa yang terpilih sangat baik dalam menerima pengembangan keterampilan yang kurang optimal. Mereka dibimbing dan dibina untuk memiliki ‘pola pikir internasional’ oleh guru yang belum memiliki kemampuan tersebut. Ini sangat buruk bagi mereka. Untuk masuk ke sekolah bertaraf internasional pada tahap ini, orang tua hanya akan mengeluarkan biaya untuk anaknya yang berkunjung ke sekolah bertaraf internasional yang hanya bertarif internasional. Sungguh ironis bahwa siswa yang dipilih dengan pilihan ketat ini tidak dibimbing dan diasuh oleh tangan kanan. Dari wawancara dengan beberapa siswa dari salah satu sekolah bertaraf internasional di kota Padang, 75% siswa di kelas yang diajar oleh penulis mengeluhkan kesulitan mereka dalam memahami materi bahasa Inggris yang ditawarkan oleh guru mereka. Bagaimana mereka bisa bersaing dengan dunia internasional jika isu ini belum menjadi fokus utama di sekolah?

Ketiga, terkait fasilitas sekolah di berbagai sekolah bertaraf internasional di Sumatera Barat. Dana block grant yang dimaksudkan untuk meningkatkan sarana dan prasarana di sekolah bertaraf internasional tidak mampu mendorong sekolah yang bersangkutan untuk menyediakan fasilitas sesuai standar internasional. Struktur yang mencerminkan internasionalitas suatu sekolah harus diperhatikan terlebih dahulu agar apa yang ingin dicapai dapat tercapai. Untungnya, pascagempa 30 September 2009, salah satu sekolah yang diiklankan sebagai sekolah kebanggaan internasional mendapat bantuan dari sekolah yang bagus dan hampir memiliki fasilitas yang dibutuhkan dari sebuah yayasan bernama Budha Tzu Chi. Sekolah membutuhkan uang. sekitar 30 miliar rupee. Sehingga tampaknya Pemerintah Kota Padang dan Provinsi Sumatera Barat bisa menyembunyikan tanggung jawabnya untuk mendapatkan sekolah yang berkualitas dengan standar internasional. Seperti pepatah Minang dalam Jamba urang sebagai Baralek. Soal ini pemerintah hanya menyebut nama

Bagaimana dengan nasib sekolah lain yang belum menerima bantuan ini? Apakah Anda harus menunggu gempa bumi berikutnya untuk mendapatkan bantuan di sekolah?