MLM Yang Diharamkan Dan Yang Diperbolehkan

Saravahsoul – APLI, singkatan dari Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia, merupakan asosiasi yang beranggotakan praktisi korporasi yang menerapkan praktik pemasaran langsung di Indonesia. Rekor organisasi ini sepertinya menarik untuk disimak. Perlu dicatat bahwa APLI juga merupakan kepala dari para pemain MLM (Multi-level Marketing). Padahal salah satu jargon yang diusung APLI itu melawan semua praktik perjudian.

Dengan melihat organisasi yang di dalamnya melibatkan multi level marketing player (MLM), namun tampaknya menjadi ruang bagi asosiasi ini untuk melawan money game, terlihat bahwa:

1. Walaupun MLM sering diidentikkan dengan money game, tidak semua orang begitu. MLM ‘a money game
2. Jika money game menjadi alasan utama pelarangan MLM, berarti MLM diperbolehkan dalam Syariah.

Jika kita mencermati alur pemasaran Multi-level Marketing (MLM), sebenarnya hampir tidak ada perbedaan antara MLM dan money games atau skema Ponzi. Masing-masing tampak seperti bangunan limas yang puncaknya merupakan upline dan pelebaran bottom line. Namun, upline dan downline tidak dilarang dalam amalan muamalah. Kemampuan menarik anggota juga bukan larangan yang buruk. Hambatan nyata dari praktek MLM yang termasuk dalam kelompok money game adalah adanya passive income berupa bonus yang tidak didapat berdasarkan kontrak prestasi kerja atau prestasi kerja. Prestasi yang didasarkan pada pencapaian tujuan pekerjaan ini dikenal dengan akad ju’alah. Fitur kontrak kinerja ini mudah dikenali.

Misalnya, PT Luxindo Raya, produsen mesin cuci dan penyedot debu Lux, memiliki skema pemasaran langsung sebagai berikut:

1. Cabang di setiap kabupaten dipimpin oleh seorang manajer cabang
2. Setiap manajer mengepalai 5 – 10 kepala departemen. Pemasaran
3. Setiap manajer pemasaran bertanggung jawab atas lima manajer pemasaran.

Total manajer pemasaran adalah 50 orang untuk 10 divisi di bawah kepemimpinan 1 manajer cabang. Ketika kondisi ini dijelaskan, mereka terlihat seperti struktur piramida. Struktur seperti itu disebut juga MLM (Multi-level Marketing). Namun tidak bisa disebut money game karena ada target operasional dan pencapaiannya. Target kinerja adalah jumlah penjualan mesin cuci dan penyedot debu.

Total manajer pemasaran adalah 50 orang untuk 10 divisi di bawah kepemimpinan 1 manajer cabang. Ketika kondisi ini dijelaskan, mereka terlihat seperti struktur piramida. Struktur seperti itu disebut juga MLM (Multi-level Marketing). Namun tidak bisa disebut money game karena ada target operasional dan pencapaiannya. Target kinerja adalah jumlah penjualan mesin cuci dan penyedot debu.

Misal, setiap member yang berhasil menjual 1 unit mesin cuci atau penyedot debu mendapat bonus 300 ribu. Semakin banyak dia menjual, semakin banyak bonus yang dia dapatkan. Jenis pemasaran ini melibatkan kontrak kinerja (ju’alah). Hukum diberlakukan karena tidak ada pemasukan pasif yang terlibat. Jika ada target pencapaian lain, misalnya yang bisa menjual 10 mesin cuci, ia akan mendapat gaji tambahan selain bonus penjualan Rp 1 juta. Target seperti ini juga tidak dimasukkan sebagai passive income karena ada kriteria dan batasan yang jelas untuk pertandingan / musâbaqah dan diketahui semua pihak yang terlibat.

Dalam konteks syariah, bonus tambahan ini disebut ja’lu. Bukankah sistem MLM seperti yang baru saja kami sebutkan mengecualikan adanya perjudian? Ingat, maisir ada ketika setiap anggota yang masuk ‘iwadl (biaya pendaftaran) harus dikenakan biaya. Selanjutnya, biaya pendaftaran ini dipertaruhkan. Untuk pihak yang kalah, dia tidak mendapat apa-apa. Sementara itu, dia bisa mempertaruhkan semua iwadl untuk pihak yang menang. Ini maisir. Dalam grup MLM seperti Luxindo Raya, ‘iwadl’ tidak boleh diajukan.

Selain itu ada MLM yang dibolehkan lagi, yaitu Forever Healthy Indonesia